Published On: Kam, Mar 7th, 2019

Putusan Hakim PN Stabat Bertolak Belakang Dengan Fakta Persidangan

Share This
Tags

Medan, SKPKNews.co – Putusan 3 bulan kurungan terhadap Bambang Sibagariang yang dituduh melakukan pengerusakan di Perumahan Stabat Tasri melik Deplover Teddy sangat sangat mencederai peradilan di Negeri kita ini. Majelis Hakim yang di pimpin ketua Pengadilan Negeri  Hj. Agus Suriyo. SH.MH.6/3/2019.

Hanya percaya dengan keterangan saksi korban korban yang keselurahan nya adalah kariyawan pemilik Perumahan Stabat Tasri saudara Teddy ada Apa ? Hj.Agus suriyo yang saat ini menjabat ketua pengadilan Negeri Stabat yang juga memimpin sidang perkara 406 dengan terdakwa Bambang Sibagariang seharus melihat fakta persidangan dan mempelajari keterangan saksi dari korban Teddy yang mana para saksi yang dihadirkan adalah semuanya kariyawan yang makan gaji dengan saksi korban Teddy. Yang keterangan patut diragukan dan harus dikesempingkan karena diduga merekayasa keterangan Hadi brata, DKK. yang mengatakan disuruh Bambang Sibagarian melakukan pengerusakan sekitar bulan maret tahun 2016 menyatukan 2 unit rumah 04 dan 06 dengan kerugian Empat Puluh Juta Rupiah tanpa koordinasi dengan saksi korban Teddy patut dicurigain memberi keterangan palsu mulai dari tingkat pemeriksaan polisi sampai ketingkat kejaksaan karena tidak didukung alat bukti yang sah seperti alat perusak palu atau serpihan atau kontrak kerja hal ini sama sekali tidak ada yang aneh nya saksi pelaku hanya sebatas saksi bukan turut serta secara bersama-sama kalau benar hal yang dikatakan saksi benar disuruh Bambang Sibagariang ada apa penyidik kepolisian dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam perkara ini ??? menurut pengamatan kami keterangan Hadi brata Samudra sangat-sangat tidak masuk akal dan bisa dinyatakan keterangan palsu yang tidak bisa diterima dengan akal sehat bagai mana tidak, seorang pengawas Deplover yang juga sebagai tangan kanan Teddy pemilik Perumahan Stabat Tasri sangat bertolak belakang dengan bukti-bukti yang didapat terdakwa Bambang Sibagariang bahwa tanggal 24 November 2015 pihak kantor Jasa Penilain Publik (KJPP) ROMOLO, CHARLIE DAN REKAN LICENCED PUBLIC APORAISER No 480/KM.1/2009 ternyata  foto yang terdakwa punya dan foto-foto yang terdapat pada laporan tersebut untuk unit 04 dangan unit 06 telah menyatu lalu pada bulan januari 2016 terdakwa melakukan angkat kredit dengan pihak PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Kantor Cabang syariah,di Jalan Juanda Medan yang mana bukti tersebut terlampir yang kami berikan kepada Hakim ketua untuk dapat dipertimbangkan dalam memutus perkara yang dituduhkan kepada terdakwa Bambang Sibgariang karena berdasarkan alat bukti dan gambar-gambar yang kami berikan bahwa sebelum terjadi angkat kredit kepada pihak Bank BTN syariah rumah 04 dan 06 sudah menyatu lebih dulu jadi sangat tidak logika terdakwa Bambang Sibagariang melakukan pengerusakan atau menyuruh orang melakukan pengerusakan keterangan Hadi Brata,DKK.

Orang yang makan Gaji dari saksi korban Teddy yang kesaksiannya sangat diragukan kesaksiannya.Para saksi tersebut membri kesaksian tidak didukung alat bukti berupa rekaman percakapan baik itu perjanjian bukti pembayaran apa bila benar terdakwa yang menyuruh para saksi bekerja seharusnya para saksi juga ikut menjadi terdakwa ada apa sebenarnya antara penyidik polisi dan Jaksa juga pengadilan sehingga bisa asumsi menjatuhkan pidana tanpa ada alat bukti yang cukup hal ini sangat mencederai peradilan yang bermartabat yang kita junjung tinggi.

Saksi dari terdakwa yang bernama Darma yang juga tukang mengerjakan rumah 04 dan 06 jelas memberikan keterangannya bahwa tahun 2015 sekitar bulan September saya merenopasi pintu penyatuan rumah 04 dan 06 atas perintah pengawas bangunan ya itu Hadi Brata dan menurut keterangan saksi terdakwa yang bernama suhemi yang pernah menjadi orang kepercayaan saksi korban Teddy mengatakan kepada Hakim bahwa setiap perubahan unit diperumahan Stabat Tasri wajib diketahui saksi korban Teddy dan Suhemi pun tau bahwa antara rumah 04 dan 06 sudah menyatu lebih dulu sebelum terdakwa melakukan angkat kredit karena rumah 04 dan 06 merupakan rumah contoh 2 unit rumah dijadikan satu dan Suhemi juga tau perbincangan antara saksi korban Teddy dan terdakwa Bambang ketika ditawarin kridit rumah 2 rumah yang sudah menjadi satu dengan cara yang satu disuruh angkat kredit ya itu rumah 04 dan  06 kapan-kapan saja Bapak bayarnya kata saksi korban Teddy kepada terdakwa Bambang Sibagariang saya heran dimana Bambang Sibgariang melakukan pengerusakan sedangkan Bambang Sibgariang jarang tinggal Di Stabat karena beliau tinggal di Jakarta  ungkap Suhemi ketika jadi saksi dipersidangan begitu juga saksi tetangga samping rumah depan rumah dan kepling Satpam yang sehari-hari menjaga keamanan diperumahan Stabat Tasri mengatakan tidak ada pengerusakan dan rumah sudah menyatu lebih dulu sebelum terdakwa Bambang Sibgariang angkat kredit kami heran karena jarak kantor satpam hanya berjarak 12 meter lebih kurang dan tidak ada pernah saya liat Bambang Sibagariang memegang palu atau mengaduk semen karena pak Bambang Sibgariang jarang sekali kami lihat ada di rumah itu pailng kalau pulang 1 bulan sekali beliau paling lama 2 hari pergi lagi Ungkap saksi terdakwa Herman yang juga satpam Perumahan Stabat Tasri. Dalam menilai kebenaran keteranagan seorang saksi sungguh – sungguh memperhatikan persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain keterangan saksi dengan alat bukti lain.

Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan tertentu. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umum nya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

” Hakim Anggota menilai keterangan saksi Hadi Brata Samudra adalah amburadul dan kurang meyakinkan Hakim anggota Rifa’i.SH. sangat melihat fakta-fakta persidangan dan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan terdakwa maupun korban.”

Bahwa dari fakta-fakta tersebut diatas maka Hakim anggota dengan terbata-bata membacakan kesimpulannya perbutan Bambang Sibagariang bukanlah merupakan pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan melanggar pasal 406 ayat (1) KUHPidana jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dan melepaskan (Ontlag van alle rechtsvervolging) Terdakwa dari Tuntutan Pidana.Jaksa Penuntut Umum tersebut, Bahwa oleh karena itu kepada terdakwa haruslah dipulihkan hak terdakwa dalam kemampuan,kedudukan dan harkat serta martabatnya. Ungkap Majelis anggota Rifa’i.SH. disaat sidang putusan Bambang Sibagariang.

Kuasa hukum Bambang Sibagariang keberatan atas putusan yang dijatuhkan Ketua Majelis Hakim terhadap kliennya bagaimana Pengadilan Staba ini sudah jelas tau ada fakta penjoliman dari tingkat penyidik hingga Kejaksaan Negeri  sampai kepengadilan ternyata sama dalam hal ini kami tidak tinggal akan diam kami dan seluruh Insan Pers di Indonesia meminta ketua Mahkamah Agung (MA)  mencopot ketua Pengadilan Negeri Stabat karena putusan pidana terhadap orang yang tidak bersalah sangat mencederai Pengadilan.

Kalau benar hal yang disangkakan itu benar baru hakim pidana bukan Hakim pasib tapi Hakim yang Aktif kenapa tidak merintah Jaksa untuk memanggil hadi brata dan menangkapnya karena Hadi Brata juga turut serta dalam perkara ini,Kenapa hanya di upayakan Jaksa dan Hakim hanya menjadi saksi saja ada apa ini sebenarya dipengadilan Negeri Stabat ini. Ungkap Jhon Efendi Purba SH.HM.

(Tim)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>